Kamis, 01 November 2007
Senin, 27 Agustus 2007
300 Tahun

Inilah kain sutra sasirangan tua yang diperoleh di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Usianya diperkirakan sekitar 300 tahun. Kondisinya sudah tidak utuh lagi.
Oleh pemiliknya, Ida Fitria Kusuma, peninggalan nenek moyang ini akan tetap dipelihara, meski sempat ditawar oleh orang asing. Ia mendapatkan kain ini melalui barter dari pemilik sebelumnya. Ida mendapatkan hadiah dua lembar kain sutra sasirangan tua dari seorang wanita yang minta dibuatkan olehnya sasirangan. Salah satu telah dihibahkan ke Museum Tekstil Jakarta di Tanah Abang.
Ida adalah perajin yang berjasa mengembangkan sasirangan menjadi komoditas andalan Kalsel pada tahun 80-an. Ia melatih sejumlah kelompok belajar usaha sasirangan di Seberang Masjid (yang kini menjadi sentra usaha sasirangan di Kota Banjarmasin, red).
Sebelum menjadi busana biasa, sasirangan tadinya adalah kain pamintan yang sakral dan penuh 'aturan'. Proses pengembangan sasirangan berjalan mulus, setelah ada restu dari Putri Junjung Buih. Dalam Hikayat Banjar, sang putri pernah memesan kain ini kepada 40 gadis suci untuk persyaratan naiknya ia dari dalam air ke darat. Satu versi menyebut, Putri Junjung Buih adalah putri dari Nabi Khaidir.
Masjid Jami
Masjid Jami di Jalan Masjid Sungai Jingah adalah masjid tua pindahan dari masjid di Jalan Teluk Masigit. Masjid ini dibangun dengan semangat gotong royong dari semua warga Banjarmasin.
Kaum ibu (bahkan nenek-nenek) dari Kuin, Ujung Murung, wilayah sekitar Banjar bahu-membahu menggangkut tanah dari perahu dinaikkan ke darat bersama kaum pria untuk 'menembok' (meninggikan tanah) tempat lokasinya berdirinya bangunan baru. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1935.
Tukang yang membangun berasal dari Sungai Jingah. Mesjid semula di Jalan Panglima Batur kini menjadi bangunan mushala.
Ikan Patin
Pernah makan ikan patin? Patin adalah ikan air tawar yang dagingnya empuk dan tak bertulang. Di Banjarmasin, ada sebuah rumah makan patin yang layak dikunjungi. Namanya: Depot Sari Patin, pemiliknya pasangan Geman Yusup dan Diana.
Membuat Koran

Koran Indonesia Merdeka terbitan Banjarmasin edisi Juli 1973. Lihatlah materi beritanya:
"Di Kalsel supaya dikembangkan pula peternakan Itik/Sapi".
"Produksi beras Kalsel cukup dan tidak dikuatirkan".
PELABUHAN BANJARMASIN SEKILAS LINTAS:
"Semua bentuk penyeludpan beras di dalam daerah Pelabuhan BMasin akan dikikis habis"
Pendiri koran ini adalah (alm) Gusti Soegian Noor. Semula terbit dengan nama Suara Kalimantan, pada 5 Oktober 1945. Berubah nama menjadi Indonesia Merdeka pada tahun 1950. Masih terbit dengan alamat redaksi Jalan Masjid Jami, Kampung Gusti.
Sasirangan Pengobatan
Sasirangan dikenal bahan busana yang cukup indah. Semula popularitasnya belum dikenal seperti sekarang. Sasirangan mulai terangkat sejak tahun 80-an berkat peran sejumlah tokoh perajin dan budayawan Banjar.
Diantara yang layak disebut adalah Ida Fitria Kusuma (perajin yang bersemangat mengajar proses pembuatan sasirangan saat itu), Ideham Suriansyah dan Addi Maswardi (yang menjadi orang-orang pertama yang mengenakan kain sasirangan untuk busana) serta HM Said, gubernur Kalsel saat itu, yang mewajibkan pemakaian sasirangan menggantikan baju wajib Korpri.
Sisi lain yang menarik dari sasirangan adalah sebagai kain pamintan untuk fungsi pengobatan. Anda mungkin tak percaya. Tapi begitulah fakta di lapangan. Masih ada yang datang berhajat penyembuhan penyakit tertentu melalui ritual sasirangan. Yang bisa menyembuhkan pun hanyalah dari tutus keturunan pegustian Banjar. Mereka bergelar Antung atau Gusti. Yang masih aktif adalah Antung Mulik dan anaknya Antung Rahmiah. Antung Mulik adalah saudara Antung Kacil, 'dukun' kharismatik ahli pengobatan sasirangan terkenal di Kampung Seberang Masjid.
Langganan:
Postingan (Atom)